Rabu, 15 Juli 2026
LIVE TV

Pancasila di Bawah Sepatu Boots: Manifestasi Marhaenisme Kultural dan Solidaritas Jalanan

Publisher Rabu, 15 Juli 2026 | 17:32 WIB
Lihat Galeri Foto (1)
Ilustrasi gambar oleh tim grafis.

Ketika Keadilan Sosial Dipraktikkan Tanpa Podium dan Retorika Politik

Menatap Pancasila dari balik meja birokrasi atau podium berlapis marmer sering kali menyuguhkan pemandangan yang steril. Di sana, dasar negara kerap direduksi menjadi deretan jargon, hafalan wajib dalam ruang sidang, atau tameng retoris untuk melegitimasi kekuasaan. Namun, jika kita bersedia turun ke ruang-ruang marginal—ke sudut-sudut kota yang bising oleh deru knalpot dan distorsi gitar—kita akan menemukan Pancasila yang sama sekali berbeda. Di sanalah, dalam subkultur musik punk yang berkelindan dengan cita-cita marhaenisme, Pancasila tidak sedang dihafalkan, melainkan dihidupkan di atas aspal jalanan oleh mereka yang terpinggirkan.

Hubungan antara semangat musik punk, sosialisme, dan Pancasila mungkin tampak paradoks bagi sebagian kalangan yang terbiasa dengan narasi formalistis. Punk kerap disalahpahami hanya sebagai kebisingan tanpa arah, sementara sosialisme sering kali dicurigai secara hitam-putih. Padahal, jika kita menengok kembali pemikiran Bung Karno, sang Proklamator kemerdekaan sekaligus pencetus ideologi Marhaenisme, kita akan menemukan bahwa nafas perlawanan terhadap eksploitasi yang disuarakan oleh subkultur punk memiliki akar historis yang sangat kuat dalam cita-cita sosialisme Indonesia.

Bung Karno, Marhaenisme, dan Akar Sosialisme Indonesia

Sebagai Proklamator bangsa, Bung Karno tidak hanya membebaskan Indonesia dari belenggu kolonialisme fisik, tetapi juga merumuskan fondasi ideologis agar bangsa ini tidak jatuh ke dalam perangkap kapitalisme global yang menindas. Melalui pengamatannya terhadap realitas rakyat kecil—yang disimbolkan oleh pertemuannya dengan seorang petani miskin bernama Pak Marhaen—Bung Karno melahirkan Marhaenisme. Ideologi ini merupakan varian sosialisme khas Indonesia: sebuah sintesis perjuangan yang membela hak-hak wong cilik, yakni para petani, buruh, pengamen, dan pedagang kecil yang memiliki alat produksi sendiri namun tetap miskin akibat struktur ekonomi yang timpang.

Marhaenisme menolak keras prinsip exploitation de l’homme par l’homme (penindasan manusia atas manusia). Cita-cita luhur Bung Karno adalah membangun sebuah tatanan masyarakat di mana keadilan sosial menjadi panglima. Ketika semangat pembelaan terhadap kaum marhaen ini bertemu dengan subkultur musik punk yang tumbuh di sub-urban Indonesia, terjadi sebuah sinkretisme kultural yang unik. Musik punk, dengan lirik-liriknya yang menggugat keserakahan korporasi dan penguasa, menjadi corong modern bagi jeritan kaum marhaen kontemporer.

IKLAN
Sponsored Alternative

Simbiosis Kultural: Etos DIY dan Kemandirian Ekonomi

Persinggungan antara punk dan Marhaenisme tidak berhenti pada tataran wacana atau lirik lagu semata, melainkan mewujud dalam tindakan nyata melalui etos kerja Do It Yourself (DIY). Di dalam komunitas punk jalanan, mereka memproduksi zine (media alternatif), merilis karya musik secara swadaya, dan mengorganisasi ruang hidup mereka sendiri tanpa bergantung pada korporasi besar atau modal kapitalis. Kemandirian ini merefleksikan spirit utama Marhaenisme yang menghendaki rakyat kecil berdaulat atas hidupnya sendiri.

Melalui kolektivisme jalanan, alat produksi kebudayaan dikuasai secara bersama dan setara. Mereka menolak menjadi sekadar sekrup kecil dalam mesin industri besar yang eksploitatif. Tindakan memproduksi karya secara mandiri ini merupakan manifestasi kultural dari ekonomi berdikari yang selalu didengungkan oleh Bung Karno sepanjang hayatnya.

Pancasila yang Hidup di Jalanan: Melampaui Retorika Podium

Di sinilah jembatan menuju Pancasila terbangun secara kokoh, sekaligus menjadi kritik paling keras terhadap para pejabat di podium politik. Ketika para elitis birokrasi masih terjebak dalam perdebatan teoritis tentang definisi keadilan sosial, anak-anak muda di jalanan telah mempraktikkannya secara nyata. Melalui berbagai aksi sosial yang digerakkan secara kolektif, mereka merawat nilai-nilai luhur bangsa langsung di akar rumput.

Gerakan berbagi makanan gratis untuk kaum miskin kota, pendirian perpustakaan jalanan, serta advokasi bagi warga yang terancam penggusuran adalah pengejawantahan murni dari Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Di jalanan, keadilan sosial tidak dipahami sebagai program bantuan sosial birokratis yang sarat muatan politis, melainkan sebagai solidaritas horizontal antar-sesama manusia. Ketika negara kadang terlambat hadir, komunitas jalanan ini bergerak mengisi ruang kosong tersebut dengan ketulusan.

Tidak ada sekat birokrasi atau pelapisan kelas di sana. Seseorang dengan atribut jaket denim penuh emblem duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan buruh harian atau pedagang asongan. Persatuan Indonesia (Sila Ketiga) mewujud secara organik karena rasa senasib sepenanggungan sebagai sesama anak bangsa yang berjuang di lapis bawah garis ekonomi.

Gotong Royong sebagai Eka Sila Jalanan

Bung Karno pernah menawarkan gagasan jenius bahwa jika Pancasila diperas menjadi satu prinsip utama, maka prinsip itu adalah Gotong Royong. Konsep gotong royong inilah yang menjadi lem perekat yang menyatukan nafas perlawanan punk, ideologi Marhaenisme, dan pengamalan Pancasila. Gotong royong di jalanan tidak digerakkan oleh instruksi formal pemerintah, melainkan lahir dari kesadaran kolektif untuk saling menjaga kelangsungan hidup kelompok.

Mereka menggalang dana swadaya untuk membantu kawan yang sakit, bahu-membahu mendirikan dapur umum saat bencana, dan membuka ruang aman bagi siapa saja yang terpinggirkan oleh modernisasi kota. Ketuhanan (Sila Pertama) pun tidak diterjemahkan sebagai dogma yang eksklusif, melainkan sebagai nilai spiritualitas luhur yang mewujud dalam welas asih dan tindakan nyata menolong sesama makhluk hidup, tanpa memandang latar belakang keyakinan.

Pada akhirnya, membawa kita pada sebuah kesadaran mendalam mengenai di mana sejatinya dasar negara itu bernyawa. Pancasila yang sejati tidak bersemayam dalam lembaran pidato kenegaraan yang dibacakan secara khidmat namun berjarak dari realitas. Pancasila yang hidup justru berada di bawah telapak sepatu boots anak-anak muda jalanan yang bergerak selaras dengan cita-cita Bung Karno.

Melalui energi musik punk dan panduan ideologis Marhaenisme, mereka membuktikan bahwa Pancasila adalah sebuah kata kerja yang menuntut aksi. Jalanan telah menjadi saksi bisu bahwa di tengah gempuran zaman yang semakin individualistis, warisan pemikiran sang Proklamator tentang keadilan sosial dan gotong royong tetap lestari—dirawat dengan penuh dedikasi oleh mereka yang sering kali luput dari perhatian panggung kekuasaan resmi.(IRZ)

Geser Kanan
atau usap layar
Geser Kiri
Publisher
Penulis Publisher
Publisher
Editor Publisher
Sumber Irvin Razad Aminuddin

Tips Navigasi

Usap layar ke kiri atau kanan untuk membaca artikel lain.