Selasa, 21 Juli 2026
LIVE TV

Rupiah Tembus Rp 18.049 per Dolar AS, Terlemah dalam Sejarah RI

Yenny Jumat, 05 Juni 2026 | 11:04 WIB
VIDEO Saksikan rilis liputan video selengkapnya di atas.

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan sejarah baru. Pada penutupan perdagangan pekan ini, mata uang garuda melemah ke level Rp 18.049 per dolar AS, turun 82 poin atau 0,46 persen dari perdagangan sebelumnya. Angka ini menjadi level terlemah sepanjang sejarah Republik Indonesia.

Pelemahan ini memicu perhatian dari berbagai mata uang regional dan media internasional. Tekanan ganda dari eskalasi geopolitik global serta sentimen domestik dituding menjadi faktor utama ambruknya nilai tukar rupiah melewati level psikologis baru.

Kronologi dan Pemicu Utama

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa memanasnya situasi militer di Timur Tengah menjadi motor utama penguatan dolar AS sebagai aset aman (safe haven).

“Investor saat ini cenderung bermain aman dan menghindari aset berisiko setelah adanya saling balas serangan militer di Timur Tengah. Konflik eksternal ini membuat indeks dolar AS terus kokoh di zona hijau,” ujar Ibrahim dalam risetnya.

Selain faktor global, terdapat beberapa sentimen dari dalam negeri yang turut memberikan tekanan bagi mata uang rupiah:

IKLAN
Sponsored Alternative

  • Risiko Defisit Fiskal: Lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik global dikhawatirkan akan membengkakkan beban subsidi BBM dan mendorong defisit fiskal Indonesia mendekati batas aman 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

  • Penyusutan Surplus Perdagangan: Data menunjukkan surplus perdagangan mengalami penurunan akibat melonjaknya biaya impor minyak dan gas, yang mengikis cadangan devisa negara.

  • Kenaikan Inflasi: Angka inflasi naik menjadi 3,08 persen yang didorong oleh tingginya harga barang-barang impor (imported inflation).

Respons Pemerintah dan Bank Indonesia

Meskipun rupiah tertekan hebat, pemerintah meminta masyarakat dan pelaku pasar untuk tetap tenang. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia secara keseluruhan masih dalam kondisi yang kuat dan stabil.

“Kita harus yakin bahwa sesungguhnya fundamental ekonomi kita tetap kuat, yang tercermin dari angka pertumbuhan ekonomi kita saat ini,” tegas Prasetyo di Jakarta.

Senada dengan pemerintah, otoritas Bank Indonesia (BI) menyatakan telah menyiapkan berbagai instrumen bauran kebijakan untuk menahan kejatuhan rupiah lebih dalam. Sebelumnya, BI juga telah mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen guna menstabilkan volatilitas pasar.

Analis memproyeksikan pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan masih akan berfluktuasi tajam di kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.050 per dolar AS, sangat bergantung pada perkembangan ketegangan geopolitik global dan efektivitas intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing.

Geser Kanan
atau usap layar
Geser Kiri
Yenny
Penulis Yenny
Sumber KOMPAS

Tips Navigasi

Usap layar ke kiri atau kanan untuk membaca artikel lain.