Selasa, 21 Juli 2026

Jejak Kaum Buruh dan Lapangan Hijau Sebagai Alat Perjuangan Bangsa

Yogi Jati S Sabtu, 06 Juni 2026 | 22:06 WIB
Ukuran Teks
Lihat Galeri Foto (1)

Bandung – Di balik gemerlapnya industri sepakbola modern yang kini bernilai miliaran dolar, tersimpan akar sejarah yang pekat dengan keringat kelas pekerja. Jauh sebelum stadion-stadion megah berdiri dan hak siar televisi menjadi rebutan para oligarki, sepakbola adalah bahasa universal kaum buruh untuk melepas penat, mengonsolidasikan kekuatan, hingga menjadi senjata politik melawan kolonialisme.

Dari Pabrik ke Lapangan Hijau: Klub Dunia yang Lahir dari Rahim Kelas Pekerja
Pada abad ke-19 di Inggris, revolusi industri memaksa masyarakat desa bermigrasi ke kota-kota besar untuk menjadi buruh pabrik.

Di tengah tekanan jam kerja yang panjang dan kondisi upah yang minim, sepakbola lahir di akhir pekan sebagai ruang hiburan sekaligus solidaritas kelompok.

Banyak klub raksasa Eropa dan dunia yang hari ini kita kenal, sebenarnya dibidani langsung oleh serikat pekerja dan buruh pabrik.

Manchester United (Inggris): Lahir pada tahun 1878 dengan nama awal *Newton Heath LYR Football Club*. Klub ini didirikan oleh para pekerja di departemen Kereta dan Gerbong dari depot *Lancashire and Yorkshire Railway*.

Arsenal (Inggris): Didirikan pada tahun 1886 oleh sekelompok buruh amunisi di pabrik senjata *Royal Arsenal* di Woolwich, London Tenggara. Nama awal mereka saat pertama kali bertanding adalah *Dial Square*.

West Ham United (Inggris): Dijuluki *The Hammers* (Martil) karena klub ini didirikan pada tahun 1895 oleh para mandor dan buruh galangan kapal di *Thames Ironworks and Shipbuilding Company*. Logo martil menyilang mereka adalah simbol abadi asal-usul buruh besi tersebut.

PSV Eindhoven (Belanda): Didirikan pada tahun 1913 sebagai klub olahraga bagi para karyawan dan buruh pabrik elektronik Philips di Belanda.

Corinthians (Brasil): Ketika sepakbola di Brasil awal abad ke-20 dikuasai oleh kaum elit dan tuan tanah, lima buruh kereta api di São Paulo melawan arus dengan mendirikan Corinthians pada tahun 1910. Klub ini berkomitmen menjadi representasi kaum miskin dan kelas pekerja.

Sepakbola Indonesia: Senjata Rahasia Melawan Penjajahan Belanda

Beralih ke tanah air, sejarah sepakbola Indonesia memiliki narasi yang tidak kalah heroik. Jika di Eropa sepakbola menjadi simbol perlawanan kelas pekerja terhadap kapitalisme, di Indonesia sepakbola bertransformasi menjadi alat perjuangan politik untuk merebut kemerdekaan.

Pasca-peristiwa Sumpah Pemuda 1928, gairah nasionalisme membakar dada para pemuda terpelajar, salah satunya Ir. Soeratin Sosrosoegondo. Berbeda dengan tokoh pergerakan lain yang berjuang lewat jalur diplomasi meja perundingan atau koran politik, Soeratin melihat lapangan hijau sebagai media yang cair namun masif untuk “menjahit” persatuan nasional.

Berdirinya PSSI pada Tahun 1930
Pada 19 April 1930, bertempat di Yogyakarta, Soeratin bersama tokoh-tokoh dari berbagai daerah mendirikan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI). Penggunaan kata “Indonesia” di tengah cengkeraman penjajahan Belanda merupakan pernyataan politik yang sangat berani.

PSSI didirikan untuk menandingi federasi sepakbola milik pemerintah kolonial, Nederlandsch-Indische Voetbal Bond (NIVB), yang kerap mendiskriminasi pemain pribumi. Soeratin bahkan rela melepas jabatannya di perusahaan konstruksi besar milik Belanda dengan gaji setara ekspatriat, demi fokus bergerilya membangun PSSI dan mengobarkan perlawanan lewat sepakbola.

Di masa itu, setiap pertandingan klub-klub PSSI (seperti Persija Jakarta, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, dan PSIM Yogyakarta) selalu bermuatan politis. Tribun penonton berubah menjadi mimbar umum di mana lagu-lagu kebangsaan dinyanyikan, dan instruksi lisan di ruang ganti sangat jelas, jika bertanding melawan klub Belanda, haram hukumnya untuk kalah.

Esensi sepakbola sebagai gerakan sosial kelas pekerja dan alat perjuangan kini kerap berbenturan dengan industrialisasi.

Kelahiran PSSI pada dasarnya adalah manifestasi konkret dari Sumpah Pemuda 1928. Nasionalisme dicoba dikembangkan melalui olahraga karena sifat sepakbola yang merakyat dan mampu mengumpulkan massa tanpa dicurigai secara agresif oleh intelijen Belanda (PID).

Sepakbola bagi Indonesia bukan sekadar mencari pemenang, melainkan alat harga diri bangsa untuk sejajar dengan bangsa penjajah.

Ada jurang pemisah yang lebar antara romansa masa lalu dan realitas hari ini. Dahulu, sepakbola dipopulerkan oleh kaum buruh sebagai pemersatu, namun kapitalisme modern perlahan merenggutnya dengan harga tiket stadium yang semakin tidak ramah bagi kantong kelas pekerja.

Kendati demikian, identitas itu tidak bisa dihapus sepenuhnya. Setiap kali suporter dari kalangan buruh atau kelompok marjinal datang ke stadion, mereka membawa memori kolektif bahwa sepakbola adalah milik mereka, bukan milik korporasi.

Sejarah panjang ini membuktikan bahwa sepakbola tidak pernah bisa dipisahkan dari dinamika sosial politik masyarakat. Di balik 90 menit jalannya pertandingan, ada detak jantung perjuangan kaum buruh dan cita-cita kemerdekaan sebuah bangsa yang terus hidup.

Geser Kanan
atau usap layar
Geser Kiri
Yogi Jati S
Penulis Yogi Jati S
Redaksi
Editor Redaksi
Sumber #

Tips Navigasi

Usap layar ke kiri atau kanan untuk membaca artikel lain.