”Angka Rp18.095 ini bukan lagi sekadar fluktuasi musiman, melainkan cerminan dari rapuhnya sentimen pasar terhadap ketahanan fiskal kita. Pasar melihat realisasi belanja negara untuk program-program janji kampanye Prabowo sangat agresif, sementara penyerapan pendapatan negara tidak sebanding. Di sisi lain, kebijakan suku bunga tinggi yang bertahan lama di AS menguras likuiditas Dolar dari pasar domestik kita secara masif,” ujar Andika saat dihubungi Sabtu, (6/6)
Menurutnya, jika Bank Indonesia dan pemerintah tidak segera menyelaraskan langkah darurat, risiko pelemahan yang lebih dalam masih sangat terbuka.
Jeritan Sektor Riil: Biaya Produksi Tak Lagi Masuk Akal
Dampak dari kejatuhan Rupiah ini langsung menghantam jantung sektor riil, terutama para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta industri manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor.
Sari Dewi, pemilik UMKM konveksi dan tekstil di Bandung, mengaku pasrah dengan lonjakan biaya modal yang terjadi dalam hitungan minggu.










Komentar