Tangerang – Kebakaran TPA Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, yang belum sepenuhnya padam terus menimbulkan kekhawatiran. Meski upaya pemadaman dan pendinginan masih dilakukan petugas, kepulan asap pekat masih menyelimuti kawasan sekitar dan berpotensi mengancam kesehatan ribuan warga yang tinggal di sekitarnya.
Dampak tersebut mulai terlihat dari meningkatnya kasus gangguan pernapasan. Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang mencatat sedikitnya 154 warga mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan asap kebakaran. Pemerintah daerah pun membuka posko kesehatan, menambah tenaga medis, dan melakukan pemantauan terhadap warga yang berisiko mengalami gangguan kesehatan lebih berat.
Paparan asap kebakaran tempat pembuangan akhir (TPA) bukan sekadar menimbulkan bau menyengat atau iritasi ringan. Menurut Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, asap dari kebakaran sampah mengandung berbagai zat berbahaya yang dapat memberikan dampak serius bagi kesehatan.
Ia menjelaskan, asap kebakaran TPA mengandung berbagai gas beracun seperti amonia (NH3), karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), hidrogen sulfida (H2S), metana (CH4), nitrogen dioksida (NO2), dan sulfur dioksida (SO2). Selain itu, terdapat partikel halus PM10, PM5, dan PM2.5 yang mampu masuk hingga ke alveolus atau kantung udara di paru-paru. Pembakaran sampah juga menghasilkan volatile organic compounds (VOC) dan senyawa kimia aromatik polisiklik yang berpotensi membahayakan tubuh.
Menurut Prof. Tjandra, paparan polutan tersebut dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Keluhan yang paling sering muncul antara lain mata perih, iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, sakit kepala, mual, hingga gangguan pada kulit dan saluran pencernaan. Jika paparan berlangsung terus-menerus, risiko gangguan pernapasan menjadi jauh lebih besar.
“Paparan asap kebakaran sampah tidak boleh dianggap sepele. Risiko penyakit paru dapat meningkat, mulai dari ISPA, serangan asma, hingga gangguan paru lain yang lebih berat,” jelas Prof. Tjandra.
Kelompok yang paling rentan terdampak adalah balita, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang telah memiliki riwayat penyakit paru atau penyakit kronis lainnya. Pada kelompok ini, kualitas udara yang buruk dapat memperburuk kondisi kesehatan dan meningkatkan risiko komplikasi.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang terus mengimbau masyarakat agar membatasi aktivitas di luar ruangan selama asap masih menyelimuti wilayah sekitar TPA. Warga juga diminta menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi yang baik, seperti masker N95, memperbanyak minum air putih, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, demam, atau keluhan lain yang tidak kunjung membaik.
Hingga kini, petugas gabungan masih berupaya memadamkan titik-titik api yang tersisa di area TPA Jatiwaringin. Selama kebakaran belum benar-benar berakhir, ancaman terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat diperkirakan masih akan terus berlangsung.
