Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (8/7/2026) siang. Mata uang Garuda tercatat melemah hingga menyentuh Rp18.010 per dolar Amerika Serikat (AS), seiring menguatnya dolar AS di pasar global.
Berdasarkan data perdagangan pasar spot yang dipantau Trading Economics, hingga siang hari rupiah bergerak di kisaran Rp18.001–Rp18.010 per dolar AS. Sejumlah media ekonomi nasional juga melaporkan rupiah sempat menyentuh level Rp18.010 per dolar AS, atau melemah sekitar 30 poin (0,17 persen) dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di kisaran Rp17.980 per dolar AS.
Pelemahan rupiah kali ini dipicu kombinasi sejumlah faktor eksternal. Investor global masih cenderung memburu dolar AS yang dianggap sebagai aset aman di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Di saat yang sama, pasar juga menanti risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperkuat sentimen tersebut. Ketika risiko global meningkat, arus modal biasanya bergerak menuju aset yang dinilai lebih aman, termasuk dolar AS. Akibatnya, mata uang negara berkembang seperti rupiah ikut tertekan.
Ekonom: Tekanan Rupiah Masih Didominasi Sentimen Global
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini terutama dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Menurutnya, eskalasi konflik membuat investor global kembali memburu aset yang dianggap aman, termasuk dolar AS.
“Penyerangan besar AS ke Iran sebagai balasan atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz menekan rupiah,” kata Lukman Leong.
Meski demikian, Lukman memperkirakan pergerakan rupiah masih berada dalam rentang Rp17.950 hingga Rp18.050 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini. Artinya, peluang penguatan maupun pelemahan tetap terbuka bergantung pada perkembangan sentimen global dan respons pelaku pasar.
Apa Dampaknya bagi Masyarakat?
Pelemahan rupiah tidak selalu langsung dirasakan masyarakat dalam waktu singkat. Namun, jika berlangsung dalam periode yang cukup lama, dampaknya bisa mulai terlihat pada sejumlah sektor.
Barang-barang impor, seperti produk elektronik, telepon genggam, komputer, hingga sebagian suku cadang kendaraan berpotensi mengalami kenaikan harga karena biaya pembelian dalam dolar menjadi lebih mahal.
Dunia usaha yang mengandalkan bahan baku impor juga menghadapi kenaikan biaya produksi. Jika tekanan berlangsung berkepanjangan, sebagian pelaku usaha dapat menyesuaikan harga jual produk kepada konsumen.
Di sektor perjalanan, biaya liburan ke luar negeri dan pendidikan di luar negeri juga berpotensi meningkat karena kebutuhan valuta asing menjadi lebih mahal.
Sebaliknya, pelemahan rupiah dapat memberikan keuntungan bagi eksportir. Produk Indonesia menjadi relatif lebih kompetitif di pasar internasional karena nilai tukarnya lebih murah bagi pembeli dari luar negeri.
Bank Indonesia Diperkirakan Terus Menjaga Stabilitas
Pelaku pasar kini menunggu langkah lanjutan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi di pasar valas, penguatan pasar obligasi, hingga koordinasi dengan pemerintah menjadi instrumen yang selama ini digunakan untuk meredam gejolak rupiah.
Di tengah tekanan terhadap nilai tukar, kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih mendapat penopang dari posisi cadangan devisa yang relatif kuat. Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 mencapai US$145,6 miliar, naik dibandingkan posisi akhir Mei sebesar US$144,9 miliar.
Cadangan devisa tersebut dinilai cukup untuk membiayai sekitar 5,5 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional. Kondisi ini memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah jika gejolak di pasar keuangan global berlanjut.
Pergerakan kurs sendiri bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti aktivitas perdagangan hingga penutupan pasar sore hari.(*)
