JAKARTA – Gerakan pilah sampah Jakarta mulai menunjukkan hasil. Hingga awal Agustus 2026, tingkat pelaksanaan pemilahan sampah di Ibu Kota telah mencapai 23,14 persen, dengan gerakan tersebut semakin banyak dilakukan masyarakat dari tingkat RT hingga RW.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan capaian tersebut saat menghadiri Deklarasi Nasional Peluncuran Perlindungan Sosial bagi Sektor Informal Persampahan Indonesia di RDF Plant Rorotan, Jakarta Utara, Senin (10/8/2026).
Menurut Pramono, pemilahan sampah kini tidak lagi sekadar menjadi program pemerintah. Gerakan tersebut mulai berkembang menjadi kebiasaan masyarakat di berbagai wilayah Jakarta.
“Karena ini sudah menjadi gerakan, saya yakin di mana-mana sekarang sudah bergemuruh untuk itu. Sampai dengan bulan Agustus awal, pilah sampah di Jakarta sudah 23,14 persen,” ujar Pramono.
Pramono Soroti Pengelolaan Sampah oleh Swasta
Di balik peningkatan tersebut, Pramono mengakui masih terdapat persoalan dalam penerapan gerakan pilah sampah Jakarta. Salah satunya berkaitan dengan pengelolaan sampah yang dilakukan perusahaan swasta.
Ia mencontohkan perusahaan yang mengumpulkan sampah dari sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka). Perusahaan tersebut memungut biaya dari pelaku usaha atas jasa pengelolaan sampah.
Namun, persoalan muncul ketika sampah yang telah dikumpulkan justru dibuang ke lokasi yang tidak memiliki izin. Praktik tersebut dinilai berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan.
Pemprov DKI Jakarta kemudian memberikan sanksi berupa denda administratif sebesar Rp5 juta kepada perusahaan yang melakukan pelanggaran.
Jika pelanggaran kembali dilakukan, pemerintah daerah tidak menutup kemungkinan mencabut izin usaha perusahaan tersebut.
“Sekarang saya minta yang seperti ini diumumkan kepada publik nama perusahaannya, dapat sampahnya dari mana, kenapa dibuang ke sana, dan sebagainya,” kata Pramono.
Jakarta Punya Ribuan Bank Sampah
Untuk mendukung gerakan pilah sampah Jakarta, Pemprov DKI juga terus memperkuat fasilitas pengelolaan sampah di berbagai wilayah.
Pramono mencatat saat ini terdapat 2.247 unit bank sampah yang tersebar di Jakarta. Selain itu, pemerintah juga memiliki 31 TPS 3R yang mampu mengolah sampah dengan kapasitas produksi sekitar 100 hingga 150 ton per hari.
Keberadaan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mengurangi beban sampah yang harus ditangani setiap hari.
Pramono mengatakan persoalan sampah di Jakarta selama ini menjadi tantangan besar karena volume sampah yang dihasilkan mencapai sekitar 9.000 ton setiap hari.
“Penanganan sampah di Jakarta yang dulu tidak terbayangkan bahwa setiap hari bagaimana menangani 9.000 ton sampah di Jakarta ini, alhamdulillah sekarang ini bisa tertangani menjadi lebih baik,” tandasnya.
Capaian 23,14 persen tersebut menunjukkan gerakan pemilahan sampah mulai mendapat tempat di tengah masyarakat. Namun, pemerintah masih menghadapi tantangan untuk memastikan sampah yang telah dipilah benar-benar dikelola melalui jalur yang sesuai hingga tahap akhir. (*/rt)
