Minggu, 7 Juni 2026
LIVE TV

Rupiah Tembus Rekor Terburuk Rp18.095 per Dolar AS, Sinyal Bahaya Ekonomi di Era Prabowo

admin Sabtu, 06 Juni 2026 | 08:58 WIB
Gambar ilustrasi. Gemini ai.
Bagikan:
  • Lonjakan Inflasi Barang Impor (Imported Inflation): Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk bahan pangan pokok (seperti gandum, kedelai, dan gula) serta bahan baku industri. Dengan kurs Rp18.095, harga barang-barang tersebut di tingkat konsumen akan melonjak tajam, memicu inflasi tinggi yang langsung menggerus isi dompet masyarakat kelas menengah ke bawah.
  • Ancaman Kebangkrutan Korporasi & PHK Massal: Banyak perusahaan besar di Indonesia memiliki utang luar negeri dalam bentuk Dolar AS tanpa adanya skema lindung nilai (hedging) yang memadai. Pembengkakan biaya pembayaran utang dalam mata uang Rupiah secara drastis dapat mengganggu arus kas perusahaan, memicu efisiensi ketat, hingga risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.
  • Agresivitas Kenaikan Suku Bunga: Bank Indonesia diprediksi akan kembali menaikkan suku bunga acuan secara agresif untuk menahan laju penurunan Rupiah. Dampak buruknya, suku bunga kredit perbankan (KPR, Kredit Modal Kerja, KKB) akan ikut melambung. Sektor usaha akan mengerem ekspansi, dan konsumsi masyarakat akan semakin lesu.
  • Beban APBN Membengkak: Setiap pelemahan Rupiah akan langsung meningkatkan beban subsidi energi (BBM dan listrik) serta biaya pembayaran bunga utang pemerintah dalam APBN. Hal ini berpotensi memotong alokasi anggaran untuk pembangunan infrastruktur dan kesejahteraan sosial lainnya.

Pemerintahan Presiden Prabowo kini menghadapi ujian nyata untuk merumuskan kebijakan ekonomi yang kredibel dan terukur guna memulihkan kepercayaan pasar, menstabilkan Rupiah, dan memitigasi dampak buruknya terhadap masyarakat luas.(adr)

Andri
Penulis : Andri Editor : Redaksi Sumber : #

Komentar

1000 Karakter tersisa