Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah program nasional tidak hanya diukur dari besarnya target yang ingin dicapai, tetapi juga dari kemampuannya melindungi setiap peserta yang terlibat.
Pemerintah perlu memastikan setiap program dirancang secara matang, berbasis kajian ilmiah, dengan manajemen risiko yang kuat dan sistem keselamatan yang menjadi prioritas utama. Sebab, sebesar apa pun tujuan pembangunan, tidak ada yang lebih berharga daripada keselamatan nyawa manusia.
Dalam ilmu manajemen sumber daya manusia, terdapat prinsip bahwa pelatihan sebaiknya relevan dengan kompetensi pekerjaan (training relevance).
Karena itu, muncul pertanyaan publik yang wajar setelah tragedi ini:
– Apakah latihan semi militer merupakan metode yang paling efektif untuk membentuk calon manajer koperasi?
– Apakah manfaatnya sebanding dengan risiko yang ditimbulkan?
– Adakah pendekatan pelatihan kepemimpinan lain yang dapat mencapai tujuan yang sama dengan risiko lebih rendah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut layak dijawab melalui evaluasi berbasis data, bukan sekadar asumsi.
Jika evaluasi menunjukkan bahwa sebagian metode pelatihan tidak memberikan nilai tambah yang signifikan terhadap kompetensi seorang manajer, maka pemerintah memiliki dasar yang kuat untuk menyesuaikan kurikulum agar lebih relevan, efektif, dan tetap mengutamakan keselamatan peserta.
