Selasa, 21 Juli 2026
LIVE TV

Mengenal Orang Sosialis dan Gerakan Sosialis: Benarkah Sama dengan Komunis?

SPH Network Selasa, 21 Juli 2026 | 00:49 WIB
Lihat Galeri Foto (1)

Oleh: Sandi Pusaka Herman, SH (Pemimpin Redaksi Umbaran.com)

Siapa Itu Orang Sosialis? Dan Apa Itu Gerakan Sosialis?

MUNGKIN tidak banyak istilah politik yang lebih sering disalahpahami dibanding kata sosialis. Di Indonesia, istilah ini kerap dicampuradukkan dengan komunisme, bahkan dianggap identik dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Padahal, sejarah menunjukkan keduanya lahir dari tradisi pemikiran yang berbeda, memiliki strategi politik yang berlainan, bahkan pernah berada dalam posisi saling berseberangan.

Pertanyaan sederhana, siapa sebenarnya orang sosialis, dan apa yang dimaksud dengan gerakan sosialis?, menjadi pintu masuk untuk memahami salah satu bab penting dalam sejarah politik Indonesia.

Jawaban atas pertanyaan itu dapat ditemukan melalui buku “PSI Yang Saya Ketahui” karya Imam Yudotomo. Buku tersebut bukan sekadar mengisahkan perjalanan Partai Sosialis Indonesia (PSI), tetapi juga mencoba menjelaskan bagaimana kaum sosialis membangun identitas politiknya di tengah pertarungan ideologi pada masa awal Republik.

IKLAN
Sponsored Alternative

Buku ini sekaligus menjadi upaya merekam ingatan kolektif mengenai sebuah partai yang secara usia hanya bertahan sekitar 12 tahun, tetapi meninggalkan pengaruh yang jauh lebih panjang dibanding umur organisasinya.

Partai Kecil dengan Jejak Besar

PSI didirikan oleh Sutan Sjahrir pada 1948 dan dibubarkan pemerintah pada 1960. Secara elektoral, partai ini bukan kekuatan dominan. Namun dalam dunia pemikiran, diplomasi, dan kaderisasi intelektual, pengaruhnya jauh melampaui ukuran politiknya.

Imam Yudotomo sejak awal tidak menutupi kekagumannya terhadap PSI. Ia menulis bukan sebagai sejarawan akademik yang berjarak, melainkan sebagai bagian dari generasi yang tumbuh di lingkungan keluarga PSI. Ayah dan ibunya merupakan anggota partai tersebut, sehingga sebagian besar kisah yang ia rekam berasal dari pengalaman para pelaku sejarah.

Pendekatan itu memang membuat buku ini lebih bersifat memoar politik dibanding penelitian akademik. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Pembaca diajak menyaksikan bagaimana sebuah ideologi hidup dalam pengalaman manusia, bukan sekadar dalam dokumen sejarah.

Sosialis Bukan Komunis

Salah satu kontribusi penting buku ini ialah menjelaskan perbedaan antara gerakan sosialis dan gerakan komunis di Indonesia.

Dalam narasi Imam Yudotomo, kelompok Sutan Sjahrir memilih jalan sosialisme demokratis yang menempatkan kebebasan individu, demokrasi konstitusional, pendidikan politik, serta penghormatan terhadap martabat manusia sebagai fondasi perjuangan.

Di sisi lain, kelompok yang kemudian berafiliasi dengan komunisme memilih strategi revolusi massa dan orientasi ideologis yang berbeda.

Perbedaan inilah yang kemudian melahirkan perpecahan besar di tubuh Partai Sosialis, terutama setelah munculnya pertentangan antara kubu Sjahrir dan Amir Sjarifuddin.

Dengan kata lain, menjadi sosialis dalam konteks PSI bukan berarti menjadi komunis. Sebaliknya, PSI justru berusaha membangun jalan politik tersendiri yang berbeda dari nasionalisme arus utama maupun komunisme.

Diplomasi sebagai Jalan Perjuangan

Figur sentral dalam buku ini tentu saja adalah Sutan Sjahrir.

Imam Yudotomo menggambarkan Sjahrir bukan sekadar pendiri partai, melainkan seorang negarawan yang percaya bahwa diplomasi internasional sama pentingnya dengan perjuangan bersenjata.

Ketika sebagian kalangan menganggap Perjanjian Linggarjati maupun Renville sebagai bentuk kekalahan diplomatik, buku ini justru menawarkan tafsir berbeda. Menurut Imam Yudotomo, keberhasilan terbesar Sjahrir ialah membawa Republik Indonesia memperoleh pengakuan internasional sebagai negara merdeka, bukan sekadar bentukan Jepang.

Perspektif ini memang dapat diperdebatkan. Namun justru di situlah nilai buku tersebut: ia menghadirkan sudut pandang yang selama ini jarang memperoleh ruang dalam narasi sejarah arus utama.

Politik Gagasan, Bukan Politik Massa

Imam Yudotomo juga menunjukkan karakter khas PSI yang lebih mengutamakan pendidikan kader dibanding mobilisasi massa.

Strategi itu membuat PSI dikenal sebagai partai kaum intelektual. Banyak tokohnya berasal dari kalangan akademisi, ekonom, diplomat, dan pemikir. Mereka percaya perubahan sosial dibangun melalui kualitas gagasan, bukan semata-mata besarnya jumlah pendukung.

Pilihan tersebut sekaligus menjelaskan mengapa PSI tidak pernah menjadi partai besar secara elektoral, tetapi tetap memiliki pengaruh kuat dalam perkembangan pemikiran politik Indonesia.

Ketika Sejarah Menjadi Korban Politik

Pembubaran PSI pada 1960 menjadi salah satu titik balik penting dalam sejarah demokrasi Indonesia.

Sejak saat itu, ruang bagi sosialisme demokratis semakin menyempit. Polarisasi politik antara kekuatan militer dan komunisme membuat gagasan sosialisme ala Sjahrir perlahan tersingkir dari panggung politik nasional.

Ironisnya, setelah tragedi 1965, bukan hanya komunisme yang lenyap dari ruang publik, tetapi juga tradisi sosialisme demokratis yang sebenarnya berbeda secara ideologis.

Akibatnya, selama puluhan tahun masyarakat lebih mengenal sosialisme melalui stigma dibanding pemahaman sejarah yang utuh.

Relevansi Hari Ini

Pertanyaan yang diajukan Imam Yudotomo pada akhirnya tetap relevan hingga sekarang.

Apakah nilai-nilai seperti keadilan sosial, demokrasi, penghormatan terhadap hak asasi manusia, pemerintahan yang bersih, dan martabat kemanusiaan masih memiliki tempat dalam politik Indonesia?

Jika jawabannya ya, maka sesungguhnya sebagian gagasan yang pernah diperjuangkan kaum sosialis masih hidup, meskipun tidak lagi menggunakan label sosialisme.

Buku PSI Yang Saya Ketahui tidak dimaksudkan sebagai kebenaran tunggal. Ia adalah sebuah tafsir yang mengajak pembaca melihat kembali sejarah Indonesia dari sudut pandang yang berbeda.

Di tengah kecenderungan menyederhanakan sejarah menjadi hitam dan putih, karya Imam Yudotomo mengingatkan bahwa perjalanan republik ini dibentuk oleh beragam arus pemikiran, termasuk sosialisme demokratis yang pernah diperjuangkan Sutan Sjahrir dan Partai Sosialis Indonesia.

Memahami sejarah secara utuh bukan berarti menyetujui seluruh gagasannya. Namun tanpa memahami sejarah, bangsa ini berisiko terus mengulang kesalahan yang sama: menilai sebuah ideologi berdasarkan stigma, bukan berdasarkan fakta dan konteks zamannya. (*)


Konten ini disediakan melalui layanan sindikasi SPH Media Corp dan dipublikasikan kembali berdasarkan perjanjian lisensi. Hak cipta tetap menjadi milik SPH Media Corp atau pihak yang berhak sesuai ketentuan yang berlaku.

Geser Kanan
atau usap layar
Geser Kiri
SPH Network
Penulis SPH Network

Tips Navigasi

Usap layar ke kiri atau kanan untuk membaca artikel lain.