PSSI didirikan untuk menandingi federasi sepakbola milik pemerintah kolonial, Nederlandsch-Indische Voetbal Bond (NIVB), yang kerap mendiskriminasi pemain pribumi. Soeratin bahkan rela melepas jabatannya di perusahaan konstruksi besar milik Belanda dengan gaji setara ekspatriat, demi fokus bergerilya membangun PSSI dan mengobarkan perlawanan lewat sepakbola.
Di masa itu, setiap pertandingan klub-klub PSSI (seperti Persija Jakarta, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, dan PSIM Yogyakarta) selalu bermuatan politis. Tribun penonton berubah menjadi mimbar umum di mana lagu-lagu kebangsaan dinyanyikan, dan instruksi lisan di ruang ganti sangat jelas, jika bertanding melawan klub Belanda, haram hukumnya untuk kalah.
Esensi sepakbola sebagai gerakan sosial kelas pekerja dan alat perjuangan kini kerap berbenturan dengan industrialisasi.
Kelahiran PSSI pada dasarnya adalah manifestasi konkret dari Sumpah Pemuda 1928. Nasionalisme dicoba dikembangkan melalui olahraga karena sifat sepakbola yang merakyat dan mampu mengumpulkan massa tanpa dicurigai secara agresif oleh intelijen Belanda (PID).








Komentar