Jakarta – Gelombang kritik terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino semakin meluas menjelang pemilihan Presiden FIFA 2027. Sejumlah federasi sepak bola, petinggi UEFA, hingga kepala pemerintahan Eropa mulai menarik dukungan setelah muncul kontroversi terkait rencana penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta.
Di tengah derasnya tekanan tersebut, Indonesia melalui Ketua Umum PSSI Erick Thohir justru mengambil sikap berbeda. PSSI menjadi salah satu federasi yang tetap memberikan dukungan kepada Infantino untuk kembali memimpin FIFA pada periode 2027–2031.
Kontroversi bermula dari proposal FIFA membentuk entitas komersial baru yang akan menjual sekitar 20 persen hak ekonomi berbagai turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia, kepada investor. Rencana tersebut memicu penolakan luas karena dinilai disusun tanpa konsultasi yang memadai dengan konfederasi maupun asosiasi anggota. Akibat gelombang protes internasional, proposal itu akhirnya dibatalkan.
Meski rencana tersebut telah dihentikan, dampak politiknya terus berlanjut. Sejumlah federasi seperti Wales, Swedia, Serbia, serta beberapa asosiasi Eropa lainnya telah mencabut dukungan terhadap pencalonan kembali Infantino. UEFA bahkan menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Presiden FIFA tersebut dan mulai membahas figur alternatif untuk pemilihan 2027.
Laporan Reuters juga menyebut sejumlah tokoh sepak bola Eropa kini aktif membangun koalisi untuk mencari penantang yang mampu mengakhiri dominasi Infantino setelah satu dekade memimpin FIFA.
Di tengah dinamika tersebut, Presiden Prancis Emmanuel Macron disebut ikut menyuarakan kritik terhadap arah kepemimpinan FIFA dan mendorong terbentuknya dukungan politik di Eropa bagi calon yang berasal dari lingkungan UEFA. Berbagai laporan media Eropa menyebut Presiden UEFA Aleksander Čeferin menjadi salah satu nama yang didorong sebagai kandidat potensial apabila memutuskan maju dalam pemilihan Presiden FIFA 2027. Namun hingga kini belum ada deklarasi resmi dari Čeferin mengenai pencalonannya.
Berbeda dengan mayoritas federasi Eropa, Erick Thohir tetap menunjukkan dukungan kepada Infantino. Sikap tersebut tidak lepas dari eratnya hubungan kerja sama FIFA dengan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari reformasi sepak bola pasca-Tragedi Kanjuruhan, pendirian FIFA Hub di Jakarta, hingga berbagai program pengembangan sepak bola nasional.
Bahkan ketika kontroversi penjualan hak komersial Piala Dunia memicu penolakan global, Erick Thohir tetap menyatakan Indonesia mendukung kepemimpinan Infantino. Sikap PSSI itu membuat Indonesia berada di kubu yang berbeda dengan sebagian besar federasi Eropa yang kini mendorong perubahan kepemimpinan di FIFA.
Dengan tenggat pencalonan yang semakin dekat, pertarungan menuju Kongres FIFA 2027 diperkirakan menjadi salah satu pemilihan presiden paling panas dalam sejarah organisasi sepak bola dunia. Masa depan Gianni Infantino kini bergantung pada kemampuannya mempertahankan dukungan dari Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin di tengah semakin kuatnya oposisi dari Eropa.
