BeritaKesehatan

Miris! Kakek Ini Sakit Lumpuh Sudah Empat Tahun, Harta Habis Untuk Berobat, Bantuan Pemkab Tak Kunjung Datang

38
×

Miris! Kakek Ini Sakit Lumpuh Sudah Empat Tahun, Harta Habis Untuk Berobat, Bantuan Pemkab Tak Kunjung Datang

Sebarkan artikel ini

OKU Timur – Nasib baik sedang menjauh dari kehidupan seorang kakek bernama Ponimin (70), salah satu warga Dusun 3, Desa Mulia Jaya, Kecamatan Semendawai Timur, Kabupaten OKU Timur.

Di usianya yang ke 70, sang kakek yang hidup bersama istrinya bernama Suartini (69) hidup dalam kondisi miskin dan tinggal di sebuah rumah papan gubuk  dalam keadan sakit lumpuh.

Di usianya yang senja kekek dan istrinya belum bisa menikmati masa tuanya dengan bahagia. Kedua pasangan suami istri ini justru terus dilanda nestapa.

Sejak 4 tahun terakhir keluarga kecil ini tak berpenghasilan dan sakit-sakitan. Namun perhatian dari pemerintah tak kunjung tiba.

Suaranya parau saat berbicara. Matanya tak berhenti meneteskan air mata, saat menceritakan derita hidup yang dialaminya 4 tahun terakhir.

Raut wajah kesedihan jelas terpancar dari wajahnya yang sudah tak muda lagi. Sesekali kali isterinya yang setia mengusap air mata yang menetes di pipi keriputnya dengan tangan gemetar.

Pasangan kakek nenek sudah hampir 4 tahun tak berpenghasilan. Ini karena sang kakek sudah sakit-sakitan. Praktis semenjak itu, dia tak lagi bisa bekerja. kehidupannya pun menjadi sengsara.

Kondisi ini tentu tak kontras dengan jargon Bupati Enos Maju Lebih Mulia yang terdengar indah. Sang kakek kini hanya bisa meneruskan kehidupannya di rumah semi permanen berdinding papan dengan penuh duka dan lara.

“Sudah 4 tahun tidak  kerja, tidak sanggup lagi sudah tua. Mau makan aja sekarang susah, tambah bapak sakit lumpuh  juga,” kata Suartini dengan raut yany sedih.

Kini, kakek 70 tahun ini mengaku pasrah dengan hidup dan penyakitnya yang dijalaninya bersama sang istri.

Meski dalam kondisi memprihatinkan, bantuan kesehatan dari Pemerintah pun belum kunjung menerimanya. Hal ini. Padahal kekek dan keluarga kecilnya sangat berharap adanya bantuan dari pemerintah untuk meringankan beban hidupnya.

“Kami sudah menjual tanah dua kampling disamping rumah, duitnya untuk berobat, mau minta tolong kemana, bidan mau datang kalau saya ada duitnya,” kata Suartini lirih.

Ia mengakui pernah mendapatkan bantuan uang dari pemerintah tapi cuma sekali saja, sampai saat ini tidak dapat lagi.

Untuk makan ya saya kadang dibantu anak saya yang jauh di Palembang dan Jakarta, atau bantuan dari tetanga, suami ngak kerja lagi separuh badanya lumpuh,” jelasnya.

Suartini bercerita, semenjak sang suami mengalami sakit lumpuh sekitar 4 tahun  lalu dan sering dirawat inap, kondisi ekonomi keluarga kecil ini semakin terpuruk lantaran tidak adanya biaya dan jaminan yang dapat menopang kehidupan pasangan lanjut usia ini.

“Udah beberpa kali dirawat inap, sekarang juga masih berobat alternatif mau ke rumah sakit ngak ada biaya, mau bertanya entah dengan siapa,” ujarnya.

Keluarga lansia ini juga sesekali mendapat belas kasih dari warga sekitar. Namun itu tak bisa diharapkan lebih lanjut untuk menopang dan menghadapi kehidupan yang keras ini.

“Mudah-mudahan pemerintah mau membantu kami, agar suami saya bisa dirawat dengan layak,” pungkasnya. (BF)