Selasa, 21 Juli 2026
LIVE TV

Menjinakkan Ego Gen Z: Seni Menghadapi Anak Keras Kepala Tanpa Perlu Angkat Suara

Lucy C Gloria Rabu, 24 Juni 2026 | 18:36 WIB
anak genz keras kepala
Lihat Galeri Foto (1)
Ilustrasi parenting menghadapi anak GenZ yang keras kepala. | Foto : Gemini generated

Menghadapi anak Gen Z yang keras kepala itu kadang rasanya mirip seperti mencoba mendownload file besar pakai jaringan 3G di tengah badai. Melelahkan, bikin gemas, dan seringkali berujung dengan kuota kesabaran yang habis total.

Suatu sore, seorang ibu bercerita tentang anak remajanya yang mendadak mengunci diri di kamar hanya karena dilarang pergi thrifting saat jam belajar. “Dia nggak mau dengar sama sekali, langsung pasang muka tembok,” keluhnya.

Di era sekarang, drama-drama kecil seperti ini bukan lagi hal asing. Gen Z lahir dan tumbuh besar di dunia yang serba cepat, di mana semua informasi ada di ujung jari mereka. Karakter ini membentuk mereka menjadi pribadi yang mandiri, kritis, tapi di sisi lain, punya ego yang sekokoh benteng kalau sudah menginginkan sesuatu.

Lalu, bagaimana cara meruntuhkan benteng itu tanpa harus menyulut perang dunia ketiga di dalam rumah?

Kuncinya ternyata bukan pada seberapa keras kita berteriak, melainkan seberapa pintar kita memosisikan diri. Menggunakan pola asuh otoriter ala zaman dulu—yang serba “kamu harus nurut kata orang tua”—biasanya sudah tidak mempan lagi untuk anak jaman sekarang.

IKLAN
Sponsored Alternative

Bukannya patuh, mereka justru akan semakin menjauh dan mencari validasi di luar rumah.
Cobalah untuk mengganti taktik dari “bos yang memberi perintah” menjadi “teman diskusi yang setara.” Saat anak mulai menunjukkan sikap keras kepalanya, tahan dulu ego kita untuk langsung menceramahi. Tarik napas dalam-dalam, lalu dengarkan dulu apa alasan di balik sikapnya itu.

Gen Z sangat menghargai ruang untuk mengekspresikan diri. Ketika mereka merasa suaranya didengar dan dihargai, secara otomatis pertahanan diri mereka akan mengendur.

Selain itu, pendekatan lewat logika jauh lebih efektif ketimbang emosi. Dibandingkan langsung melarang dengan kata “Jangan!”, akan jauh lebih masuk akal bagi mereka jika kita memaparkan konsekuensi logisnya. Misalnya, daripada bilang, “Jangan main game terus, nanti bodoh!” coba ubah kalimatnya menjadi, “Boleh main game, tapi kalau tugas sekolahmu keteteran, minggu depan waktu mainnya terpaksa dikurangi ya.” Berikan mereka pilihan yang bertanggung jawab, bukan ancaman yang kosong.

Satu hal lagi yang sering kita lupakan: mereka adalah peniru yang ulung. Kalau kita ingin mereka menjadi pribadi yang mau mendengarkan dan menurunkan ego, kita pun harus mencontohkannya terlebih dahulu. Meminta maaf kepada anak saat kita salah bukan berarti menurunkan wibawa, justru itu menunjukkan kematangan emosi yang akan mereka hormati.

Menaklukkan keras kepalanya Gen Z memang butuh stok kesabaran berlapis. Ini bukan tentang siapa yang menang atau siapa yang kalah dalam argumen, tapi tentang bagaimana membangun jembatan komunikasi yang kokoh di atas perbedaan generasi. Pada akhirnya, di balik sikap keras kepala itu, mereka sebenarnya hanya ingin dimengerti dengan cara yang benar.

Geser Kanan
atau usap layar
Geser Kiri
Lucy C Gloria
Penulis Lucy C Gloria
Redaksi
Editor Redaksi
Sumber -

Tips Navigasi

Usap layar ke kiri atau kanan untuk membaca artikel lain.